Rabu, 09 September 2015

                                                                         My Lovely

Minggu, 30 Agustus 2015

ILMU FILSAFAT : Batas Pengembangan Ilmu


BATAS-BATASAN PENGEMBANGAN ILMU 

a.      Cabang- cabang Ilmu 

Ilmu berkembang dengan sangat pesat demikian juga jumlah cabang cabangnya. Pada dasarnya cabang ilmu berkembang dari 2 cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian menjadi ruympun ilmu alamdan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang ilmu-ilmu social . Ilmu ilmu alam membagi diri kepada dua kelompok lagi yakni ilmu alam dan ilmu hayat . ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk alam semesta sedangkan alam kemudian berjabang lagi menjadi fisika ,kimia,astronomi dan nilmu bumi.
            Tiap cabang kemudian membikin ranting baru seperti berkembang mekanika ,hidrodinamika ,bunyi,cahaya,kelistrikaan dan magnetismesampai tahap ini maka kelompok ini termasuk ke dalam ilmu-ilmu murni
Ilmu –ilmu murni kemudian berkembang menjadi ilmu terapan.
Ilmu murni adalah merupakan kumpulan teori ilmiah yang bersifat dasar dan teoritis yang belum aktif dikaitkan dengan masalah masalah kehidupan yang bersifat praktis . ilmu terapan merupakan aplikasi ilmu murni kepada masalah-masalah kehidupan yang mempunyai manfaat praktis.
ILMU MURNI                                                               ILMU TERAPAN
Mekanika                                                                    Mekanika Teknis
Hidrodinamika                                                           Tehnik Aeronautikal/
Tehnik dan desain kapal
Bunyi                                                                           Tehnik Akustik
Cahaya & Optik                                                           Tehnik Iluminasi
Kelistrikaan/                                                                Tehnik Elektro
Magnetisme
Fisika Nuklir                                                                Tehnik Nuklir
Ilmu ilmu social berkembang agak lambat bdi bandingkan ilmu alam.pada pokoknya cabang utama  ilmu- ilmu social yakni antropologi,psikologi,ekonomi,sosiologi dan ilmu politik.
Cabang utama  ilmu-ilmu  social kemudian mempunyai caang lagi umpamayanya antropologi terpecah menjadi 5 yakni: arkeologi,antropologi fifik linguistic,etnologi dan antropologi social cultural.

b.  Kelebihan dan kekurangan ilmu

Dibandingkan dengan pengetahuan lain maka ilmu berkembang dengan sangat cepat. Salah satu faktor utama yang mendorong perkembangan ini ialah faktor sosial dari komunikasi ilmiah yang membuat penemuan individual segera diketahui dan dikaji oleh anggota masyarakat ilmuan lainnya. Tersedianya alat komunikasi tertulis dengan komunikasi elektronik dalam bentuk majalah, buletin, jurnal, micro film, telex dan sebagainya sangat menunjang intensitas komunikasi ini. Suatu penemuan baru di negara yang satu segera dapat diketahui oleh ilmuan negara- negara lain.
Penemuan ini segera diteliti kebenarannya oleh kalangan ilmiah karena prosedur untuk menilai kesahian (validity) pengetahuan tersebut sama- sama telah diketahui dan disetujui oleh seluruh kalangan ilmuan. Percobaan ilmiah harus selalu dapat diulang dan sekitarnya dalam pengulangan tersebut ternyata pernyataannya didukung oleh fakta maka kalangan ilmiah secara tuntas menerima kebenaran pengetahuan tersebut.
Seluruh kalangan ilmiah menganggap permasalahan mengenai hal tersebut telah selesai dan ilmu mendapat pengetahuan baru yang diterima oleh masyarakat dan ilmuan. Dengan demikian maka ilmu berkembang dengan pesat dalam dinamika yang dipercepat karena penemuan yang satu akan melahirkan penemuan- penemuan lainnya. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya segera menjadi teori ilmiah yang kemudian digunakan sebagai premis dalam mengembangkan hipotesis- hipotesis selanjutnya. Secara kumulatif maka teori ilmiah berkembang seperti piramida terbalik yang makin lama makin tinggi.
Ilmu juga bersifat konsisten karena penemuan yang satu didasarkan pada penemuan- penemuan sebelumnya. Sebenarnya hal ini tidak sepenuhnya benar. Karena sampai saat ini belum satu pun dari disiplin keilmuan yang berhasil menyusun suatu teori yang konsisten dan menyeluruh. Bahkan dalam fisika, yang merupakan prototipe bidang ilmuan yang relatif paling maju. Satu teori yang mencakup segenap dunia fisik kita belum dapat dirumuskan. Usaha untuk menyatukan teori relatifitas umum. Elektrodinamika, dan kuantum sampai saat ini belum dapat dilaksanakan. Teori ilmiah masih merupakan penjelasan yang bersifat sebagian dan tentatif sesuai dngan tahap perkembangan keilmuan yang masih sedang berjalan. Demikian juga dengan jalur perkembangan ini belum dapat dipastikan bahwa kebenaran yang sekarang ditemukan dan diterima oleh kalangan ilmiah akan benar pula dimasa yang akan datang.
Sejarah ilmu telah mencatat betapa banyak kebenaran ilmiah di masa lalu yang sekarang ini tidak dapat diterima lagi karena manusia telah menemukan kebenaran lain yang ternyata lebih dapat diandalkan. Sifat pragmatis inilah yang sebenarnya merupakan kelebihan dan sekaligus kekurangan ilmu. Sikap pragmatis dari ilmu adalah cocok dengan perkembangan peradaban manusia, telah terbukti secara nyata peranan ilmu dalam membangun perdaban tersebut.
Ilmu terlepas dari berbagai kekurangannya dapat memberikan jawaban yang positif terhadap permasalahan yang dihadapi manusia pada suatu waktu tertentu. Dalam hal ini maka penilaian terhadap ilmu tidaklah terletak pada kesahian teorinya sepanjang zaman, melainkan terletak dalam jawaban yang diberikannya terhadap permasalahan manusia dalam tahap peradaban tertentu. Adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam abad ke dua puluh ini kita menggunakan berbagai macam teknologi. Seperti mobil, pesawat terbang, dan kapal laut. Sebagai sarana pengangkutan kita berdasarkan pengetahuan yang kita terima kebenarannaya saat ini. Dikemudian hari mungkin saja ditemukan sarana pengangkutan lain yang lebih cocok dengan peradaban waktu itu yang pembuatannya didasarkan atas pengetahuan baru yang akan mengusangkan pengetahuan yang sekarang kita anggap benar tersebut.
Bagi tahap peradaban kita sekarang ini, maka semua itu tidak menjadi soal karena penerapan pengetahuan kedalam masalah kehidupan kita sehari- hari masih dirasakan banyak manfaatnya. Masalah tertentu akan lain lagi bila hal ini dihubungkan dengan pengetahuan yang bersifat mutlak yang tidak berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan peradaban manusia.
Dalam hal ini maka ilmu tidak dapat memberikan jalan keluar dan manusia harus berpaling ke sumber yang lain, umpamanya agama. Ilmu tidak berwenang untuk menjawabnya, sebab hal itu berada diluar bidang telaahnya. Secara ontologi ilmu membatasi diri hanya dalam ruang lingkup pengalaman manusia. Diluar bidang empiris tidak bisa mengatakan apa- apa. Sedangkan dalam batas kewenangannya pun, ilmu bukan tanpa cela, antara lain karena panca indra manusia jauh dari sempurna.
Walaupun demikian kekurangan- kekurangan ini bukan merupakan alasan untuk menolak eksistensi ilmu dalam kehidupan kita. Kekurangan dan kelebihan ilmu harus digunakan sebagai pedoman untuk meletakkan ilmu ke dalam tempat yang sewajarnya, sebab hanya dengan sifat itulah kita dapat memanfaatkan kegunaannya semaksimal mungkin bagi kemaslahatan manusia. Menolak kehadiran ilmu dengan picik berarti kita menutup mata terhadap kemajuan masa kini, yang ditandai oleh kenyataan bahwa semua aspek kehidupan modern dipengaruhi oleh produk ilmu dan teknologi. Sebaliknya dengan jalan mendewa- dewakan ilmu kitapun gagal untuk mendapatkan pengertian mengenai hakikat ilmu yang sebenarnya.’
Mereka yang sungguh- sungguh berilmu adalah mereka yang mengetahui kelebihan dan kekurangan ilmu, dan menerimanaya sebagaimana adanya, mencintainya dengan bijaksana, serta menjadikannya sebagai bagian dari kepribadian dan kehidupannya. Bersama- sama pengetahuan lainnya. Dan bersama pelengkap kehidupan lainnya seperti seni, agama, ilmu melengkapi kehidupan dan memenuhi kebahagiaan kita. Tanpa kesadaran itu, maka hanya akan kembali kepada ketidaktahuan dan kegersangan, seperti di syairkan Byron dalam Manfred, bahwa pengetahuan tak membawa kita bahagia, dan ilmu tak lebih dari sekedar bentuk lain dari ketidaktahuan.
c. Batas- batas  ilmu
Apakah nilai kebenaran dari ilmu bersifat mutlak?
Apakah seluruh permasalahan manusia di dunia dapat dijawab dengan tuntas oleh pengetahuan yang disebut ilmu pengetahuan?
Inilah pertanyaan pokok yang timbul bagi setiap yang mengejar ilmu pengetahuan kapan saja dan dimana saja. Untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan- pertanyaan itu, baiklah kia akan menoleh sejenak kepada apa yang telah diungkapkan oleh beberapa ahli di dunia dalam hubungan eksistensi ilmu pengetahuan itu.
Immanuel Kant (1724-1804) (dalam Burhanudin, 1996:94), seorang filsuf ulung bangsa Jerman, menulis “Dengan bagaimanapun juga tiada akal manusia (juga tiada akal yang terbatas) yang menilik sifatnya sama dengan akal kita, tapi memiliknya tingkatnya betapapun juga jauh melebihinya dapat berharap akan memahami penghasilan rumput yang kecil sekalipun dengan sebab- sebab yang sifatnya mekanis belaka.”
Dr. Mr. D.C Mulder menulis dalam karyanya yang berjudul Iman dan Ilmu Pengetahuan, “Tiap- tiap ahli ilmu vak menghadapi soal- soal yang tak dapat dipecahkan dengan melulu memakai pengetahuan vak itu sendiri. Ada soal- soal pokok atau soal- soal dasar yang melalui kompetensi dari ilmu vak itu sendiri. Misalnya, dimanakah batas- batas lapangan yang saya selidiki ini? Dimanakah tempatnya di dalam kenyataan seluruhnya ini? Metode yang saya gunakan ini sampai dimanakah? Umpamanya soal yang sangat sulit sekali apakah causalitas kealaman (natuur causaliteit) berlaku juga atas lapangan hayat, psychs, historis, sosial, dan yuridis? Dan tentu ada lain- lain lagi. Jelaslah untuk menjawab soal- soal semacam itu ilmu- ilmu vak membutuhkan suatu instansi yang sedemikian itu? Ada juga, yaitu ilmu filsafat.”
Dr. Frans Dahler mengemukakan, menurut Marxisme, agama akan lenyap, karena ilmu pengetahuan makin lama makin mampu mengartikan hidup dan membebaskan manusia dari penderitaan. Namun sesungguhnya ilmu tetap tak dapat menjawab beberapa pertanyaan yang mendasar dan terpendam dalam sanubari manusia. Misalnya tentang arti kematian, sukses dan gagalnya cinta, makna sengsara yang tidak dapat dihindarkan oleh ilmu yang paling maju sekalipun. Dan lebih dari itu, ilmu tak dapat memenuhi kerinduan, kehausan manusia akan cinta mutlak dan abadi.
Jean Paul Sartre, seorang filsuf eksistensialis yang atheist bangsa Perancis pernah mengemukakan, “ Apakah pengetahuan? Ilmu pengetahuan bukanlah suatu hal yang sudah selesai terfikirkan, sesuatu hal yang tidak pernah mutlak, sebab akan selalu disisihkan oleh hasil- hasil penelitian dan percobaan- percobaan baru yang dilakukan dengan metode- metode baru atau karena adanya perlengkapan- perlengkapan yang lebih sempurna. Dan penemuan- penemuan baru ini akan disisihkan pula oleh ahli- ahli lainnya, kadang- kadang kembali mundur, tetapi seringnya lebih maju. Begitulah selalu akan terjadi. Teori Einstein berdasarkan atas studi mengenai percobaan- percobaan Micchelson dan Morley yang menyisihkan ketentuan fisik dari Newton. Teori relativitas Einstein terus hidup hingga 30 tahun kemudian akan disisihkan pula.”
Apakah batas yang merupakan lingkup penjelajahan ilmu? Di manakah ilmu berhenti dan meyerahkan pengkajian selanjutnya kepada pengetahuan lain? Apakah yang menjadi karakteristik obyek ontologi ilmu yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya? Jawab dari semua pertanyaan itu adalah sangat sederhana: ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman manusia. Jadi ilmu tidak mempelajari masalah surga dan neraka dan juga tidak mempelajari sebab musabab kejadian terjadinya manusia, sebab kejadian itu berada di luar jangkauan pengalaman manusia (Jujun, 1990:91)
Mengapa ilmu hanya membatasi daripada hal-hal yang berbeda dalam pengalaman kita? Jawabnya terletak pada fungsi ilmu itu sendiri dalam kehidupan manusia; yakni sebagai alat pembantu manusia dalam menanggulangi masalah yang dihadapi sehari-hari. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Sekiranya ilmu memasukkan daerah di luar batas pengalaman empirisnya, bagaimanakah kita melakukan suatu kontradiksi yang menghilangkan kesahihan metode ilmiah? Kalau begitu maka sempit sekali batas jelajah ilmu, kata seorang, Cuma sepotong dari sekian permasalahan kehidupan.
Memang demikian, jawab filsuf ilmu, bahkan dalam batas pengalaman manusiapun, ilmu hanya berwenang dalam menentukan benar atau salahnya suatu pernyataan. Tentang baik dan buruk, semua berpaling kepada sumber-sumber moral; tentang indah dan jelek semua berpaling kepada pengkajian estetik.
Dapat disimpulkan bahwa Batas dari penjelajahan ilmu hanyalah ”Pengalaman” manusia, yaitu mulai dari pengalaman manusia dan berhenti pada pengalaman manusia juga. Pengalaman manusia pada dasarnya dapat diperoleh melalui panca inderanya, oleh karena itu jika pengalaman diperoleh dengan melihat maka ”ilmu adalah penglihatanmu”, jika penglaman diperoleh dengan mendengarkan, maka ”Ilmu adalah pendengaranmu” begitu juga untuk indera yang lainnya. Ini mengindikasikan bahwa ilmu sesorang mencapai batas ketika ia harus meninggalkan dunia ini.


Pemerolehan Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua pada Anak Usia Dini



A.       Pemerolehan Bahasa Pertama
1.    Pengertian
     Pemerolehan bahasa berasal dari istilah Inggris aquisition yaitu proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural ketika anak belajar bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Proses anak mulai mengenal kominukasi dengan lingkungannya secara verbal.
      Menurut Kiparsky (Tarigan,1986:243) pemerolehan bahasa merupakan proses yang dipergunakan oleh anak – anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang makin bertambah rumit, ataupun teori – teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi dengan ucapan – ucapan orang tuanya sampai dia memilih berdasarkan suatu ukuran atau dari bahasa tersebut.
       Sedangkan bahasa pertama adalah bahasa yang pertama kali diperoleh oleh anak sejak kelahirannya. Anak pada umumnya memperoleh komponen bahasa mereka yang pertama dari pengasuh dan biasanya dari ibunya yang disebut bahasa ibu. Oleh karena itu, bahasa pertama biasa disebut dengan bahasa ibu atau mother tongue. Anak pertama kali memperoleh bahasa tersebut antara masa bayi kurang lebih satu tahun, bermula dari mendengar orang yang mengajak bicara kemudian bayi memperhatikan wajah orang tersebut lalu bayi merespon sesuai dengan kemampuannya.

2.        Tahap – Tahap Pemerolehan Bahasa Pertama
        Seorang anak tidak dengan tiba – tiba memiliki tata bahasa dalam otaknya dan lengkap dengan semua kaidahnya. Bahasa pertama diperolehnya dalam beberapa tahap dan setiap tahap berikutnya lebih mendekati tata bahasa dari bahasa orang dewasa. Adapun tahap – tahap pemerolehan bahasa pertama adalah sebagai berikut :
a.         Tahap Pralinguistik I (Meraban)
Tahap ini berlangsung ketika anak berusia 0 – 6 bulan. Bayi mulai mengeluarkan bunyi – bunyi dalam bentuk teriakan, rengekan. Bunyi yang dikeluarkan mirip dengan bunyi vokal atau konsonan. Kecenderungan bunyi yang dikeluarkan bersifat universal yaitu bunyi yang dikeluarkan bayi sama diseluruh dunia.
b.         Tahap Pralinguistik II
Pada tahap ini usia sekitar 6 – 12 bulan bunyi yang dihasilkan sama tapi kita sudah bisa membedakan maksud anak. Anak sudah menghasilkan konsonan dan vokal.
c.         Tahap Satu Kata
Tahap ini berlangsung ketika anak berusia antara 12 dan 18 bulan. Ujaran – ujaran mengandung kata – kata tunggal yang diucapkan anak mengacu pada benda – benda yang dijumpai sehari – hari. Pada tahap ini anak mulai mengerti bahwa bunyi ujar berkaitan dengan makna dan mulai mengucapkan kata – kata pertama. Kecenderungan anak hanya menguasai satu kata dan umumnya anak mudah mengucapkan vokal.
d.         Tahap Dua Kata
Tahap ini berlangsung ketika anak berusia 18 – 20 bulan. Ujaran – ujaran yang terdiri atas dua kata muncul seperti mama mam dan num susu. Anak mampu mengucapkan kata dengan baik dan tersusun rapi.
e.         Tahap Pengembangan Gramatikal
Pada tahap ini anak mulai menghasilkan ujaran kata ganda. Anak mulai mampu berbicara panjang. Anak juga mulai mampu berbicara terhadap banyak objek. Kosakata anak berkembang dengan pesat mencapai ratusan kata dan cara pengucapan kata – kata semakin mirip dengan orang dewasa. Biasanya anak cenderung banyak bertanya, banyak yang ingin diketahuinya.
3.        Peran Bahasa Pertama
Bahasa pertama mempunyai peranan penting dalam pengembangan bahasa selanjutnya. Hasil penelitian Dulay, Burt, dan Krashen (1982) mengatakan bahwa bahasa pertama merupakan faktor utama dalam proses pemerolehan bahasa kedua. Menurut teori Behavioristik Watson dan Skinner, kebiasaan lama masuk dalam cara belajar kebiasaan baru yang berarti bahasa pertama mempengaruhi bahasa kedua.

B.        Pemerolehan Bahasa Kedua
1.        Pengertian
          Bahasa kedua adalah bahasa yang digunakan anak setelah ia menguasai bahasa pertamanya. Pemerolehan bahasa kedua merupakan proses pemerolehan bahasa yang kompleks dan bertahap, baik yang dialami oleh anak maupun dewasa, baik bahasa lisan maupun tulisan. Elis (1989) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa kedua merupakan proses yang kompleks dan mencakup banyak faktor yang saling berhubungan.

2.        Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa Kedua
a.         Faktor Lingkungan Bahasa
Lingkungan bahasa adalah segala sesuatu yang didengar dan dilihat anak dalam belajar bahasa kedua yaitu bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi sehari – hari oleh masyarakat disekitar anak.
b.         Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor seseorang yang dapat mempengaruhi anak dalam berbahasa. Faktor tersebut adalah : (1) kepribadian, (2) umur, (3) motivasi.

3.        Peranan Bahasa Kedua
      Peranan bahasa kedua lebih difokuskan pada penguasaan bahasa anak usia dini dalam rangka pengembangan keterampilan berbahasa. Oleh karena itu, masalah pemerolehan bahasa kedua penting untuk diketahui oleh pendidik anak usia dini sehingga bahasa kedua bisa diperoleh dengan baik oleh anak usia dini.

C.        Teori – Teori Tentang Pemerolehan Bahasa Pertama
1.    Teori Behaviorisme
Teori behaviorisme menyoroti aspek perilaku kebahasaan yang dapat diamati langsung dan antara hubungan antara rangsangan (stimulus) dan reaksi (respone).  Perilaku bahasa yang efektif adalah memuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan. Reaksi ini akan menjadi suatu kebiasaan jika reaksi itu dibenarkan. Dengan demikian, anak belajar bahasa pertamanya.
Menurut Skinner, tokoh aliran behaviorisme, perilaku kebahasaan sama dengan perilaku yang lain dikontrol oleh konsekuensinya. Menurut pandangan kaum behavioristik anak yang baru lahir ke dunia ini dianggap kosong dari bahasa atau kosong dari struktur linguistik yang dibawanya. Anak tersebut ibarat tabularasa atau kertas putih yang belum ditulisi, lingkungannyalah yang akan memberi corak dan warna pada kertas itu. Namun pemerolehan seperti ini memerlukan penguatan (reinfocment)

2.    Teori Nativisme
Menurut teori nativisme, bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, binatang tidak mungkin menguasai bahasa manusia. Menurut Chomsky, hal ini didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap bahasa memiliki perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal) lingkungan memiliki peran kecil didalam proses pematangan bahasa. Kedua, bahasa dapat dikuasai dalam waktu yang relatif singkat. Ketiga, lingkungan bahasa anak tidak dapat menyediakan data yang cukup bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa. Menurut aliran ini, bahasa adalah sesuatu yang kompleks dan rumit sehingga mustahil dapat dikuasai dalam waktu singkat melalui ‘peniruan’. Nativisme juga percaya bahwa setiap manusia yang lahir sudah dibekali dengan suatu alat untuk memperoleh bahasa (Language Acquisition Device, disingkat LAD).

3.    Teori Kognitivisme
Menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah melainkan salah satu diantara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada perubahan yg lebih mendasar dan lebih umum didalam kognisi. Menurut teori kognitivisme, yang paling utama harus dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Pendekatan kognitivistik yang dipelopori oleh Louis Bloom memandang bahwa pemerolehan bahasa anak-anak harusb dilihat dari fungsi bahasa sebagai alat komunikasi.

4.    Teori Interaksionisme
Teori interaksionisme beranggapan bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara kemampuan mental pembelajaran dan lingkungan bahasa. Pemerolehan bahasa itu berhubungan dengan adanya interaksi antara masukan ‘input’ dan kemampuan internal pembelajar. Setiap anak sudah memiliki LAD sejak lahir, namun tanpa adanya masukan yang sesuai tidak mungkin anak dapat menguasai bahasa tertentu secara otomatis







Selasa, 25 Agustus 2015

Mengenalkan Komputer pada Anak Usia Dini



Ulasan dari Kompasiana
“ Mengenalkan Komputer pada Anak Usia Dini

Selasa, 25 Agustus 2015
Sebagaimana yang kita ketahui perkembangan teknologi itu memang semakin berkembang pesat, seluruh pekerjaan dapat terselesaikan dengan mudah dengan teknologi yang semakin canggih. Contohnya dengan adanya komputer,  komputer sangat diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan. Dan komputer juga dapat membantu siswa dalam menyelesaikan tugasnya. Oleh karena perkembangan teknologi saat ini semakin canggih maka siswa perlu mengetahui bagaimana cara pemakaian komputer. Karena dengan adanya komputer dan jaringan internet dapat memudahkan anak dalam belajar dan memahami pelajaran sebab anak dapat mengakses materi pelajaran yang menarik didalamnya.

Menurut analisa Dr. Glenn Doman dimana dalam bukunya yang berjudul How to Multiply Your Child’s Intelligence menyatakan bahwa : ‘Semua bayi dalam perkembangan berikutnya akan ditentukan pada usia enam tahun pertama dari hidupnya.” Dalam penelitiannya, Doman menemukan bahwa sebagian besar anak belajar diantara usia 1 sampai 6 tahun dengan menyerap segala sesuatu yang diajarkan kepada mereka. Pengajaran yang diperoleh anak pada usia ini akan menentukan nilai-nilai atau keterampilan yang akan mereka miliki di masa mendatang.

Berdasarkan atas penemuan di atas, bahwa penting bagi kita sebagai calon guru untuk memperkenalkan anak-anak kepada komputer ketika mereka masih dini.
Sesuai fakta bahwa masa AUD merupakan masa yang tepat untuk mendapatkan banyak masukan dan stimulus positif yang dapat membangkitkan kemampuan dan keahlian yang pada akhirnya berguna bagi masa depan. Untuk itu pengenalan  komputer pada usia dini saat ini sudah diperlukan selain karena melihat perkembangan teknologi yang semakin canggih agar anak tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi itu, juga pengenalan komputer sangat baik untuk anak karena pembelajaran dengan media komputer akan melahirkan suasana yang menyenangkan bagi anak. Gambar-gambar dan suara yang muncul juga membuat anak tidak cepat bosan, sehingga dapat merangsang anak mengetahui lebih jauh lagi. Oleh sebab itu, pengenalan komputer pada usia dini sangat diperlukan.

Namun pengenalan komputer yang diberikan kepada anak usia dini sifatnya hanyalah sebagai pengenalan dan hiburan saja, karena pada masa AUD prinsip pembelajaran adalah bermain sambil belajar. Jika pelajaran komputer dijadikan pelajaran yang serius tentu mereka akan terbebani, karena mereka masih harus fokus pada pelajaran membaca dan berhitung.

Namun, mengenalkan komputer pada anak, amat tergantung pada kesiapan orangtua dan guru dalam mengenalkan dan mengawasi anak saat bermain komputer. Karenanya, kepada semua orangtua, perlu diingatkan peran penting mereka dalam pemanfaatan komputer bagi anak. Berikan kesempatan pada anak untuk belajar dan berinteraksi dengan komputer sejak dini. Apalagi mengingat penggunaan komputer adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari pada saat ini dan masa yang akan datang.

Banyak manfaat yang dapat diperoleh anak dalam pembelajaran melalui media komputer yaitu :
a.       Dengan pembelajaran  melalui media komputer di Taman Kanak-kanak akan mempermudah anak dalam mengenal dan belajar mengenai huruf, angka, warna, bentuk geometri dan sebagainya
b.      Pembelajaran melalui komputer yang diterapkan pada anak usia dini tentunya dapat menstimulasi kecerdasan mereka, misalnya kecerdasan kognitif mengenai pemahaman konsep bilangan maupun kecerdasan bahasa dan mengasah kemampuan untuk berpikir kritis.
c.       Pembelajaran melalui komputer bagi anak dapat menstimulasi koordinasi mata dengan ketepatan gerak tangan dengan belajar menggunakan mouse. Secara tidak langsung pembelajaran melalui komputer juga membantu perkembangan motorik halus.
d.      Sebagai media belajar, komputer memiliki keunggulan dalam hal interaksi, dan menumbuhkan minat belajar mandiri bagi anak. Tetapi interaksi komputer dengan anak belum dapat menggantikan interaksi orang tua atau guru dengan anak.
e.       Meningkatkan keterampilan belajar. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang menggunakan komputer memiliki performa akademis yang lebih baik.
f.       Menstimulasi kreativitas dan imajinasi. Pemrograman komputer, meskipun sederhana akan terasa menantang bagi anak. Anak belajar mengidentifikasi masalah, menganalisa pilihan, dan memilih solusi terbaik. Batasan anak dalam membuat program hanyalah imajinasinya sendiri.
g.      Meningkatkan perkembangan kepribadian. Program komputer memungkinkan anak melakukan kesalahan, memperbaiki, dan mencoba lagi tanpa takut dimarahi. Anak jadi terbiasa berani mengambil risiko, memiliki sifat yang lebih independen, dan lebih percaya diri.


            Komputer akan memberikan pengaruh positif bila digunakan dengan bijaksana, yaitu membantu pengembangan intelektual dan motorik anak. Namun juga dapat membuat dampak yang negatif, yaitu bila anak-anak dibiarkan menggunakan komputer secara sembarangan,

Contohnya saja jika anak mengalami kecanduan game komputer. Kecanduan bermain komputer dapat memicu anak menjadi malas menulis, menggambar ataupun melakukan aktivitas sosial. Kecanduan bermain komputer dapat terjadi karena sejak awal orang tua tidak membuat aturan terlebih dahulu. Jadi sebelum memperkenalkan anak  dengan komputer dan internet, kita harus memastikan bahwa kebiasaan berkomunikasi secara langsung di keluarga harus berjalan dengan baik. Dan orang tua perlu membuat kesepakatan dengan anak soal waktu bermain. Misalnya, memberikan waktu bermain pada hari libur.

Selain itu juga  banyak hal yang dapat merugikan apabila dalam pengaplikasikannya tidak diiringi dengan bimbingan dan nilai moral yang baik, diantaranya adalah :
        
a.       Melalui computer anak dapat meniru hal-hal yang kurang baik, karena tidak adanya penyaringan untuk anak.
b.      Melalui komputer akan dapat merusak system kerja otak karena sinar katoda yang di terima oleh otak .
c.       Melalui komputer ini juga akan mengurangi gerak anak karena hanya terfokus duduk di depan komputer.
d.      Dari segi sosialisasi anak akan sulit berkomunikasi karena anak terbiasa berinteraksi dengan komputer.

Salah satu cara mengenalkan komputer kepada anak-anak taman kanak-kanak adalah dengan memasang sebuah aplikasi game/permainan yang disukai oleh anak-anak pada usia tersebut, dan juga sekarang sudah banyak aplikasi CD Interaktif untuk anak-anak. Banyak bermacam-macam jenis game yang dapat kita temukan yaitu game-game dengan unsur hiburan yang sesuai dengan materi, sehingga anak semakin suka. Dalam kaitan ini, komputer dalam proses belajar, akan melahirkan suasana yang menyenangkan bagi anak. Gambar-gambar dan suara yang muncul juga membuat anak tidak cepat bosan, sehingga dapat merangsang anak mengetahui lebih jauh lagi. Sisi baiknya, anak dapat menjadi lebih tekun dan terpicu untuk belajar berkonsentrasi. Namun tidak semua game yang ada dapat menunjang perkembangan anak. Game yang berbau pendidikanlah yang sebaiknya kita berikan kepada anak-anak pada usia dini tersebut, karena disamping mereka bermain, meraka juga dapat belajar komputer.

Selain itu, pembelajaran komputer juga bisa dibuat degan tema yang dibahas di taman kanak-kanak selama 1 tahun, sehingga pembelajaran komputer dapat diterapkan untuk menunjang keberhasilan pendidikan anak dan membantu anak mengembangkan semua aspek perkembangannya. Melalui media komputer, anak belajar dengan bertindak dan mendapat banyak informasi secara integral sehingga anak mampu mendeskripsikan pengetahuan yang diperolehnya baik melalui visual( menggambar) maupun auditorium (bercerita).

Jadi menurut saya pembelajaran komputer pada AUD sudah diperlukan saat sekarang ini agar anak juga dapat menjadi generasi yang tidak tertinggal dengan kemajuan zaman, agar anak dapat menghadapi dunia untuk kedepanya, yang semakin berkembang, dan agar anak dapat menjadi seorang yang ilmiah dengan menemukan teknologi-teknologi yang baru, namun hal ini dapat terwujud apabila seluruh agen pendidik memahami akan teknologi dan kebutuhan serta perkembangan anak itu sendiri. Dan orang tua hendaknya memahami sejauh mana anak dikenalkan dengan komputer dan bagimanpula dengan pemahaman orang tua tentang komputer itu sendiri, begitu juga dengan guru dan masyarakat, bagaimana anak akan bisa memahami komputer apabila gurunya tidak mampu dalam mengaplikasikanya, dan agar komputer itu benar-benar menjadi media yang bermanfaat bagi anak masyarakat juga harus memahami hal-hal apa saja yang perlu dan yang tidak perlu diketahui anak.

Dan apabila kita melihat dari segi kemampuan ekonomi baik sekolah maupun masyarakat, masih banyak masyarakat yang menganggap komputer adalah barag mewah yang sulit untuk mendapatkanya, begitu juga dengan sekolah-sekolah yang kekurangan biaya dalam melengkapi fasilitas pendidikan, dan kemampuan anak untuk mengolah komputer itu seperti anak-anak yang ada di pedusunan.
                     
Untuk anak usia dini yang ada dipedusunan dapat juga belajar komputer jika guru atau pihak sekolah dapat mengusahakan kepada pemerintah daerah atau kepada pihak yayasan untuk mendapatkan komputer. Namun, pada saat sekarang ini sudah banyak warung internet dipedesaan, untuk masyarakat yang memerlukan. Dengan semakin berkembangnya teknologi seperti saat sekarang ini menurut saya sudah mudah untuk mendapatkan komputer tersebut.