BATAS-BATASAN PENGEMBANGAN ILMU
a.
Cabang- cabang Ilmu
Ilmu berkembang
dengan sangat pesat demikian juga jumlah cabang cabangnya. Pada dasarnya cabang
ilmu berkembang dari 2 cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian menjadi
ruympun ilmu alamdan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang
ilmu-ilmu social . Ilmu ilmu alam membagi diri kepada dua kelompok lagi yakni
ilmu alam dan ilmu hayat . ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk
alam semesta sedangkan alam kemudian berjabang lagi menjadi fisika
,kimia,astronomi dan nilmu bumi.
Tiap cabang kemudian membikin
ranting baru seperti berkembang mekanika ,hidrodinamika ,bunyi,cahaya,kelistrikaan
dan magnetismesampai tahap ini maka kelompok ini termasuk ke dalam ilmu-ilmu
murni
Ilmu –ilmu murni
kemudian berkembang menjadi ilmu terapan.
Ilmu murni adalah
merupakan kumpulan teori ilmiah yang bersifat dasar dan teoritis yang belum
aktif dikaitkan dengan masalah masalah kehidupan yang bersifat praktis . ilmu
terapan merupakan aplikasi ilmu murni kepada masalah-masalah kehidupan yang
mempunyai manfaat praktis.
ILMU MURNI ILMU
TERAPAN
Mekanika Mekanika
Teknis
Hidrodinamika Tehnik Aeronautikal/
Tehnik dan desain kapal
Bunyi Tehnik
Akustik
Cahaya & Optik Tehnik
Iluminasi
Kelistrikaan/ Tehnik
Elektro
Magnetisme
Fisika Nuklir Tehnik
Nuklir
Ilmu ilmu social
berkembang agak lambat bdi bandingkan ilmu alam.pada pokoknya cabang utama ilmu- ilmu social yakni
antropologi,psikologi,ekonomi,sosiologi dan ilmu politik.
Cabang utama ilmu-ilmu
social kemudian mempunyai caang lagi umpamayanya antropologi terpecah
menjadi 5 yakni: arkeologi,antropologi fifik linguistic,etnologi dan
antropologi social cultural.
b. Kelebihan dan kekurangan ilmu
Dibandingkan dengan pengetahuan lain maka
ilmu berkembang dengan sangat cepat. Salah satu faktor utama yang mendorong
perkembangan ini ialah faktor sosial dari komunikasi ilmiah yang membuat
penemuan individual segera diketahui dan dikaji oleh anggota masyarakat ilmuan
lainnya. Tersedianya alat komunikasi tertulis dengan komunikasi elektronik
dalam bentuk majalah, buletin, jurnal, micro film, telex dan sebagainya sangat
menunjang intensitas komunikasi ini. Suatu penemuan baru di negara yang satu
segera dapat diketahui oleh ilmuan negara- negara lain.
Penemuan ini segera diteliti kebenarannya
oleh kalangan ilmiah karena prosedur untuk menilai kesahian (validity)
pengetahuan tersebut sama- sama telah diketahui dan disetujui oleh seluruh
kalangan ilmuan. Percobaan ilmiah harus selalu dapat diulang dan sekitarnya
dalam pengulangan tersebut ternyata pernyataannya didukung oleh fakta maka
kalangan ilmiah secara tuntas menerima kebenaran pengetahuan tersebut.
Seluruh kalangan ilmiah menganggap
permasalahan mengenai hal tersebut telah selesai dan ilmu mendapat pengetahuan
baru yang diterima oleh masyarakat dan ilmuan. Dengan demikian maka ilmu
berkembang dengan pesat dalam dinamika yang dipercepat karena penemuan yang
satu akan melahirkan penemuan- penemuan lainnya. Hipotesis yang telah teruji
kebenarannya segera menjadi teori ilmiah yang kemudian digunakan sebagai premis
dalam mengembangkan hipotesis- hipotesis selanjutnya. Secara kumulatif maka
teori ilmiah berkembang seperti piramida terbalik yang makin lama makin tinggi.
Ilmu juga bersifat konsisten karena
penemuan yang satu didasarkan pada penemuan- penemuan sebelumnya. Sebenarnya
hal ini tidak sepenuhnya benar. Karena sampai saat ini belum satu pun dari
disiplin keilmuan yang berhasil menyusun suatu teori yang konsisten dan
menyeluruh. Bahkan dalam fisika, yang merupakan prototipe bidang ilmuan yang
relatif paling maju. Satu teori yang mencakup segenap dunia fisik kita belum
dapat dirumuskan. Usaha untuk menyatukan teori relatifitas umum.
Elektrodinamika, dan kuantum sampai saat ini belum dapat dilaksanakan. Teori
ilmiah masih merupakan penjelasan yang bersifat sebagian dan tentatif sesuai
dngan tahap perkembangan keilmuan yang masih sedang berjalan. Demikian juga
dengan jalur perkembangan ini belum dapat dipastikan bahwa kebenaran yang
sekarang ditemukan dan diterima oleh kalangan ilmiah akan benar pula dimasa
yang akan datang.
Sejarah ilmu telah mencatat betapa banyak
kebenaran ilmiah di masa lalu yang sekarang ini tidak dapat diterima lagi
karena manusia telah menemukan kebenaran lain yang ternyata lebih dapat
diandalkan. Sifat pragmatis inilah yang sebenarnya merupakan kelebihan dan
sekaligus kekurangan ilmu. Sikap pragmatis dari ilmu adalah cocok dengan
perkembangan peradaban manusia, telah terbukti secara nyata peranan ilmu dalam
membangun perdaban tersebut.
Ilmu terlepas dari berbagai kekurangannya
dapat memberikan jawaban yang positif terhadap permasalahan yang dihadapi
manusia pada suatu waktu tertentu. Dalam hal ini maka penilaian terhadap ilmu
tidaklah terletak pada kesahian teorinya sepanjang zaman, melainkan terletak
dalam jawaban yang diberikannya terhadap permasalahan manusia dalam tahap peradaban
tertentu. Adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam abad ke dua
puluh ini kita menggunakan berbagai macam teknologi. Seperti mobil, pesawat
terbang, dan kapal laut. Sebagai sarana pengangkutan kita berdasarkan
pengetahuan yang kita terima kebenarannaya saat ini. Dikemudian hari mungkin
saja ditemukan sarana pengangkutan lain yang lebih cocok dengan peradaban waktu
itu yang pembuatannya didasarkan atas pengetahuan baru yang akan mengusangkan
pengetahuan yang sekarang kita anggap benar tersebut.
Bagi tahap peradaban kita sekarang ini,
maka semua itu tidak menjadi soal karena penerapan pengetahuan kedalam masalah
kehidupan kita sehari- hari masih dirasakan banyak manfaatnya. Masalah tertentu
akan lain lagi bila hal ini dihubungkan dengan pengetahuan yang bersifat mutlak
yang tidak berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan peradaban manusia.
Dalam hal ini maka ilmu tidak dapat
memberikan jalan keluar dan manusia harus berpaling ke sumber yang lain,
umpamanya agama. Ilmu tidak berwenang untuk menjawabnya, sebab hal itu berada
diluar bidang telaahnya. Secara ontologi ilmu membatasi diri hanya dalam ruang
lingkup pengalaman manusia. Diluar bidang empiris tidak bisa mengatakan apa-
apa. Sedangkan dalam batas kewenangannya pun, ilmu bukan tanpa cela, antara
lain karena panca indra manusia jauh dari sempurna.
Walaupun demikian kekurangan- kekurangan
ini bukan merupakan alasan untuk menolak eksistensi ilmu dalam kehidupan kita.
Kekurangan dan kelebihan ilmu harus digunakan sebagai pedoman untuk meletakkan ilmu
ke dalam tempat yang sewajarnya, sebab hanya dengan sifat itulah kita dapat
memanfaatkan kegunaannya semaksimal mungkin bagi kemaslahatan manusia. Menolak
kehadiran ilmu dengan picik berarti kita menutup mata terhadap kemajuan masa
kini, yang ditandai oleh kenyataan bahwa semua aspek kehidupan modern
dipengaruhi oleh produk ilmu dan teknologi. Sebaliknya dengan jalan mendewa-
dewakan ilmu kitapun gagal untuk mendapatkan pengertian mengenai hakikat ilmu
yang sebenarnya.’
Mereka yang sungguh- sungguh berilmu
adalah mereka yang mengetahui kelebihan dan kekurangan ilmu, dan menerimanaya
sebagaimana adanya, mencintainya dengan bijaksana, serta menjadikannya sebagai
bagian dari kepribadian dan kehidupannya. Bersama- sama pengetahuan lainnya.
Dan bersama pelengkap kehidupan lainnya seperti seni, agama, ilmu melengkapi
kehidupan dan memenuhi kebahagiaan kita. Tanpa kesadaran itu, maka hanya akan
kembali kepada ketidaktahuan dan kegersangan, seperti di syairkan Byron dalam
Manfred, bahwa pengetahuan tak membawa kita bahagia, dan ilmu tak lebih dari
sekedar bentuk lain dari ketidaktahuan.
c. Batas- batas ilmu
Apakah nilai kebenaran dari ilmu bersifat mutlak?
Apakah seluruh permasalahan manusia di dunia dapat
dijawab dengan tuntas oleh pengetahuan yang disebut ilmu pengetahuan?
Inilah pertanyaan pokok yang timbul bagi setiap yang
mengejar ilmu pengetahuan kapan saja dan dimana saja. Untuk memperoleh jawaban
dari pertanyaan- pertanyaan itu, baiklah kia akan menoleh sejenak kepada apa
yang telah diungkapkan oleh beberapa ahli di dunia dalam hubungan eksistensi
ilmu pengetahuan itu.
Immanuel Kant (1724-1804) (dalam Burhanudin, 1996:94),
seorang filsuf ulung bangsa Jerman, menulis “Dengan bagaimanapun juga tiada
akal manusia (juga tiada akal yang terbatas) yang menilik sifatnya sama dengan
akal kita, tapi memiliknya tingkatnya betapapun juga jauh melebihinya dapat
berharap akan memahami penghasilan rumput yang kecil sekalipun dengan sebab-
sebab yang sifatnya mekanis belaka.”
Dr. Mr. D.C Mulder menulis dalam karyanya yang
berjudul Iman dan Ilmu Pengetahuan, “Tiap- tiap ahli ilmu vak menghadapi soal-
soal yang tak dapat dipecahkan dengan melulu memakai pengetahuan vak itu
sendiri. Ada soal- soal pokok atau soal- soal dasar yang melalui kompetensi
dari ilmu vak itu sendiri. Misalnya, dimanakah batas- batas lapangan yang saya
selidiki ini? Dimanakah tempatnya di dalam kenyataan seluruhnya ini? Metode
yang saya gunakan ini sampai dimanakah? Umpamanya soal yang sangat sulit sekali
apakah causalitas kealaman (natuur causaliteit) berlaku juga atas
lapangan hayat, psychs, historis, sosial, dan yuridis? Dan tentu ada lain- lain
lagi. Jelaslah untuk menjawab soal- soal semacam itu ilmu- ilmu vak membutuhkan
suatu instansi yang sedemikian itu? Ada juga, yaitu ilmu filsafat.”
Dr. Frans Dahler mengemukakan, menurut Marxisme, agama
akan lenyap, karena ilmu pengetahuan makin lama makin mampu mengartikan hidup
dan membebaskan manusia dari penderitaan. Namun sesungguhnya ilmu tetap tak
dapat menjawab beberapa pertanyaan yang mendasar dan terpendam dalam sanubari
manusia. Misalnya tentang arti kematian, sukses dan gagalnya cinta, makna
sengsara yang tidak dapat dihindarkan oleh ilmu yang paling maju sekalipun. Dan
lebih dari itu, ilmu tak dapat memenuhi kerinduan, kehausan manusia akan cinta
mutlak dan abadi.
Jean Paul Sartre, seorang filsuf eksistensialis yang
atheist bangsa Perancis pernah mengemukakan, “ Apakah pengetahuan? Ilmu
pengetahuan bukanlah suatu hal yang sudah selesai terfikirkan, sesuatu hal yang
tidak pernah mutlak, sebab akan selalu disisihkan oleh hasil- hasil penelitian
dan percobaan- percobaan baru yang dilakukan dengan metode- metode baru atau
karena adanya perlengkapan- perlengkapan yang lebih sempurna. Dan penemuan-
penemuan baru ini akan disisihkan pula oleh ahli- ahli lainnya, kadang- kadang
kembali mundur, tetapi seringnya lebih maju. Begitulah selalu akan terjadi.
Teori Einstein berdasarkan atas studi mengenai percobaan- percobaan Micchelson
dan Morley yang menyisihkan ketentuan fisik dari Newton. Teori relativitas Einstein
terus hidup hingga 30 tahun kemudian akan disisihkan pula.”
Apakah batas yang merupakan lingkup
penjelajahan ilmu? Di manakah ilmu berhenti dan meyerahkan pengkajian
selanjutnya kepada pengetahuan lain? Apakah yang menjadi karakteristik obyek
ontologi ilmu yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya? Jawab
dari semua pertanyaan itu adalah sangat sederhana: ilmu memulai penjelajahannya
pada pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman manusia. Jadi ilmu
tidak mempelajari masalah surga dan neraka dan juga tidak mempelajari sebab
musabab kejadian terjadinya manusia, sebab kejadian itu berada di luar
jangkauan pengalaman manusia (Jujun, 1990:91)
Mengapa ilmu hanya membatasi daripada
hal-hal yang berbeda dalam pengalaman kita? Jawabnya terletak pada fungsi ilmu
itu sendiri dalam kehidupan manusia; yakni sebagai alat pembantu manusia dalam
menanggulangi masalah yang dihadapi sehari-hari. Ilmu membatasi lingkup
penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan
dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Sekiranya ilmu
memasukkan daerah di luar batas pengalaman empirisnya, bagaimanakah kita
melakukan suatu kontradiksi yang menghilangkan kesahihan metode ilmiah? Kalau
begitu maka sempit sekali batas jelajah ilmu, kata seorang, Cuma sepotong dari
sekian permasalahan kehidupan.
Memang demikian, jawab filsuf ilmu, bahkan
dalam batas pengalaman manusiapun, ilmu hanya berwenang dalam menentukan benar
atau salahnya suatu pernyataan. Tentang baik dan buruk, semua berpaling kepada
sumber-sumber moral; tentang indah dan jelek semua berpaling kepada pengkajian
estetik.
Dapat disimpulkan bahwa Batas
dari penjelajahan ilmu hanyalah ”Pengalaman” manusia, yaitu mulai dari
pengalaman manusia dan berhenti pada pengalaman manusia juga. Pengalaman
manusia pada dasarnya dapat diperoleh melalui panca inderanya, oleh karena itu
jika pengalaman diperoleh dengan melihat maka ”ilmu adalah penglihatanmu”, jika
penglaman diperoleh dengan mendengarkan, maka ”Ilmu adalah pendengaranmu”
begitu juga untuk indera yang lainnya. Ini mengindikasikan bahwa ilmu sesorang
mencapai batas ketika ia harus meninggalkan dunia ini.