Rabu, 09 September 2015
Minggu, 30 Agustus 2015
ILMU FILSAFAT : Batas Pengembangan Ilmu
BATAS-BATASAN PENGEMBANGAN ILMU
a.
Cabang- cabang Ilmu
Ilmu berkembang
dengan sangat pesat demikian juga jumlah cabang cabangnya. Pada dasarnya cabang
ilmu berkembang dari 2 cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian menjadi
ruympun ilmu alamdan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang
ilmu-ilmu social . Ilmu ilmu alam membagi diri kepada dua kelompok lagi yakni
ilmu alam dan ilmu hayat . ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk
alam semesta sedangkan alam kemudian berjabang lagi menjadi fisika
,kimia,astronomi dan nilmu bumi.
Tiap cabang kemudian membikin
ranting baru seperti berkembang mekanika ,hidrodinamika ,bunyi,cahaya,kelistrikaan
dan magnetismesampai tahap ini maka kelompok ini termasuk ke dalam ilmu-ilmu
murni
Ilmu –ilmu murni
kemudian berkembang menjadi ilmu terapan.
Ilmu murni adalah
merupakan kumpulan teori ilmiah yang bersifat dasar dan teoritis yang belum
aktif dikaitkan dengan masalah masalah kehidupan yang bersifat praktis . ilmu
terapan merupakan aplikasi ilmu murni kepada masalah-masalah kehidupan yang
mempunyai manfaat praktis.
ILMU MURNI ILMU
TERAPAN
Mekanika Mekanika
Teknis
Hidrodinamika Tehnik Aeronautikal/
Tehnik dan desain kapal
Bunyi Tehnik
Akustik
Cahaya & Optik Tehnik
Iluminasi
Kelistrikaan/ Tehnik
Elektro
Magnetisme
Fisika Nuklir Tehnik
Nuklir
Ilmu ilmu social
berkembang agak lambat bdi bandingkan ilmu alam.pada pokoknya cabang utama ilmu- ilmu social yakni
antropologi,psikologi,ekonomi,sosiologi dan ilmu politik.
Cabang utama ilmu-ilmu
social kemudian mempunyai caang lagi umpamayanya antropologi terpecah
menjadi 5 yakni: arkeologi,antropologi fifik linguistic,etnologi dan
antropologi social cultural.
b. Kelebihan dan kekurangan ilmu
Dibandingkan dengan pengetahuan lain maka
ilmu berkembang dengan sangat cepat. Salah satu faktor utama yang mendorong
perkembangan ini ialah faktor sosial dari komunikasi ilmiah yang membuat
penemuan individual segera diketahui dan dikaji oleh anggota masyarakat ilmuan
lainnya. Tersedianya alat komunikasi tertulis dengan komunikasi elektronik
dalam bentuk majalah, buletin, jurnal, micro film, telex dan sebagainya sangat
menunjang intensitas komunikasi ini. Suatu penemuan baru di negara yang satu
segera dapat diketahui oleh ilmuan negara- negara lain.
Penemuan ini segera diteliti kebenarannya
oleh kalangan ilmiah karena prosedur untuk menilai kesahian (validity)
pengetahuan tersebut sama- sama telah diketahui dan disetujui oleh seluruh
kalangan ilmuan. Percobaan ilmiah harus selalu dapat diulang dan sekitarnya
dalam pengulangan tersebut ternyata pernyataannya didukung oleh fakta maka
kalangan ilmiah secara tuntas menerima kebenaran pengetahuan tersebut.
Seluruh kalangan ilmiah menganggap
permasalahan mengenai hal tersebut telah selesai dan ilmu mendapat pengetahuan
baru yang diterima oleh masyarakat dan ilmuan. Dengan demikian maka ilmu
berkembang dengan pesat dalam dinamika yang dipercepat karena penemuan yang
satu akan melahirkan penemuan- penemuan lainnya. Hipotesis yang telah teruji
kebenarannya segera menjadi teori ilmiah yang kemudian digunakan sebagai premis
dalam mengembangkan hipotesis- hipotesis selanjutnya. Secara kumulatif maka
teori ilmiah berkembang seperti piramida terbalik yang makin lama makin tinggi.
Ilmu juga bersifat konsisten karena
penemuan yang satu didasarkan pada penemuan- penemuan sebelumnya. Sebenarnya
hal ini tidak sepenuhnya benar. Karena sampai saat ini belum satu pun dari
disiplin keilmuan yang berhasil menyusun suatu teori yang konsisten dan
menyeluruh. Bahkan dalam fisika, yang merupakan prototipe bidang ilmuan yang
relatif paling maju. Satu teori yang mencakup segenap dunia fisik kita belum
dapat dirumuskan. Usaha untuk menyatukan teori relatifitas umum.
Elektrodinamika, dan kuantum sampai saat ini belum dapat dilaksanakan. Teori
ilmiah masih merupakan penjelasan yang bersifat sebagian dan tentatif sesuai
dngan tahap perkembangan keilmuan yang masih sedang berjalan. Demikian juga
dengan jalur perkembangan ini belum dapat dipastikan bahwa kebenaran yang
sekarang ditemukan dan diterima oleh kalangan ilmiah akan benar pula dimasa
yang akan datang.
Sejarah ilmu telah mencatat betapa banyak
kebenaran ilmiah di masa lalu yang sekarang ini tidak dapat diterima lagi
karena manusia telah menemukan kebenaran lain yang ternyata lebih dapat
diandalkan. Sifat pragmatis inilah yang sebenarnya merupakan kelebihan dan
sekaligus kekurangan ilmu. Sikap pragmatis dari ilmu adalah cocok dengan
perkembangan peradaban manusia, telah terbukti secara nyata peranan ilmu dalam
membangun perdaban tersebut.
Ilmu terlepas dari berbagai kekurangannya
dapat memberikan jawaban yang positif terhadap permasalahan yang dihadapi
manusia pada suatu waktu tertentu. Dalam hal ini maka penilaian terhadap ilmu
tidaklah terletak pada kesahian teorinya sepanjang zaman, melainkan terletak
dalam jawaban yang diberikannya terhadap permasalahan manusia dalam tahap peradaban
tertentu. Adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam abad ke dua
puluh ini kita menggunakan berbagai macam teknologi. Seperti mobil, pesawat
terbang, dan kapal laut. Sebagai sarana pengangkutan kita berdasarkan
pengetahuan yang kita terima kebenarannaya saat ini. Dikemudian hari mungkin
saja ditemukan sarana pengangkutan lain yang lebih cocok dengan peradaban waktu
itu yang pembuatannya didasarkan atas pengetahuan baru yang akan mengusangkan
pengetahuan yang sekarang kita anggap benar tersebut.
Bagi tahap peradaban kita sekarang ini,
maka semua itu tidak menjadi soal karena penerapan pengetahuan kedalam masalah
kehidupan kita sehari- hari masih dirasakan banyak manfaatnya. Masalah tertentu
akan lain lagi bila hal ini dihubungkan dengan pengetahuan yang bersifat mutlak
yang tidak berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan peradaban manusia.
Dalam hal ini maka ilmu tidak dapat
memberikan jalan keluar dan manusia harus berpaling ke sumber yang lain,
umpamanya agama. Ilmu tidak berwenang untuk menjawabnya, sebab hal itu berada
diluar bidang telaahnya. Secara ontologi ilmu membatasi diri hanya dalam ruang
lingkup pengalaman manusia. Diluar bidang empiris tidak bisa mengatakan apa-
apa. Sedangkan dalam batas kewenangannya pun, ilmu bukan tanpa cela, antara
lain karena panca indra manusia jauh dari sempurna.
Walaupun demikian kekurangan- kekurangan
ini bukan merupakan alasan untuk menolak eksistensi ilmu dalam kehidupan kita.
Kekurangan dan kelebihan ilmu harus digunakan sebagai pedoman untuk meletakkan ilmu
ke dalam tempat yang sewajarnya, sebab hanya dengan sifat itulah kita dapat
memanfaatkan kegunaannya semaksimal mungkin bagi kemaslahatan manusia. Menolak
kehadiran ilmu dengan picik berarti kita menutup mata terhadap kemajuan masa
kini, yang ditandai oleh kenyataan bahwa semua aspek kehidupan modern
dipengaruhi oleh produk ilmu dan teknologi. Sebaliknya dengan jalan mendewa-
dewakan ilmu kitapun gagal untuk mendapatkan pengertian mengenai hakikat ilmu
yang sebenarnya.’
Mereka yang sungguh- sungguh berilmu
adalah mereka yang mengetahui kelebihan dan kekurangan ilmu, dan menerimanaya
sebagaimana adanya, mencintainya dengan bijaksana, serta menjadikannya sebagai
bagian dari kepribadian dan kehidupannya. Bersama- sama pengetahuan lainnya.
Dan bersama pelengkap kehidupan lainnya seperti seni, agama, ilmu melengkapi
kehidupan dan memenuhi kebahagiaan kita. Tanpa kesadaran itu, maka hanya akan
kembali kepada ketidaktahuan dan kegersangan, seperti di syairkan Byron dalam
Manfred, bahwa pengetahuan tak membawa kita bahagia, dan ilmu tak lebih dari
sekedar bentuk lain dari ketidaktahuan.
c. Batas- batas ilmu
Apakah nilai kebenaran dari ilmu bersifat mutlak?
Apakah seluruh permasalahan manusia di dunia dapat
dijawab dengan tuntas oleh pengetahuan yang disebut ilmu pengetahuan?
Inilah pertanyaan pokok yang timbul bagi setiap yang
mengejar ilmu pengetahuan kapan saja dan dimana saja. Untuk memperoleh jawaban
dari pertanyaan- pertanyaan itu, baiklah kia akan menoleh sejenak kepada apa
yang telah diungkapkan oleh beberapa ahli di dunia dalam hubungan eksistensi
ilmu pengetahuan itu.
Immanuel Kant (1724-1804) (dalam Burhanudin, 1996:94),
seorang filsuf ulung bangsa Jerman, menulis “Dengan bagaimanapun juga tiada
akal manusia (juga tiada akal yang terbatas) yang menilik sifatnya sama dengan
akal kita, tapi memiliknya tingkatnya betapapun juga jauh melebihinya dapat
berharap akan memahami penghasilan rumput yang kecil sekalipun dengan sebab-
sebab yang sifatnya mekanis belaka.”
Dr. Mr. D.C Mulder menulis dalam karyanya yang
berjudul Iman dan Ilmu Pengetahuan, “Tiap- tiap ahli ilmu vak menghadapi soal-
soal yang tak dapat dipecahkan dengan melulu memakai pengetahuan vak itu
sendiri. Ada soal- soal pokok atau soal- soal dasar yang melalui kompetensi
dari ilmu vak itu sendiri. Misalnya, dimanakah batas- batas lapangan yang saya
selidiki ini? Dimanakah tempatnya di dalam kenyataan seluruhnya ini? Metode
yang saya gunakan ini sampai dimanakah? Umpamanya soal yang sangat sulit sekali
apakah causalitas kealaman (natuur causaliteit) berlaku juga atas
lapangan hayat, psychs, historis, sosial, dan yuridis? Dan tentu ada lain- lain
lagi. Jelaslah untuk menjawab soal- soal semacam itu ilmu- ilmu vak membutuhkan
suatu instansi yang sedemikian itu? Ada juga, yaitu ilmu filsafat.”
Dr. Frans Dahler mengemukakan, menurut Marxisme, agama
akan lenyap, karena ilmu pengetahuan makin lama makin mampu mengartikan hidup
dan membebaskan manusia dari penderitaan. Namun sesungguhnya ilmu tetap tak
dapat menjawab beberapa pertanyaan yang mendasar dan terpendam dalam sanubari
manusia. Misalnya tentang arti kematian, sukses dan gagalnya cinta, makna
sengsara yang tidak dapat dihindarkan oleh ilmu yang paling maju sekalipun. Dan
lebih dari itu, ilmu tak dapat memenuhi kerinduan, kehausan manusia akan cinta
mutlak dan abadi.
Jean Paul Sartre, seorang filsuf eksistensialis yang
atheist bangsa Perancis pernah mengemukakan, “ Apakah pengetahuan? Ilmu
pengetahuan bukanlah suatu hal yang sudah selesai terfikirkan, sesuatu hal yang
tidak pernah mutlak, sebab akan selalu disisihkan oleh hasil- hasil penelitian
dan percobaan- percobaan baru yang dilakukan dengan metode- metode baru atau
karena adanya perlengkapan- perlengkapan yang lebih sempurna. Dan penemuan-
penemuan baru ini akan disisihkan pula oleh ahli- ahli lainnya, kadang- kadang
kembali mundur, tetapi seringnya lebih maju. Begitulah selalu akan terjadi.
Teori Einstein berdasarkan atas studi mengenai percobaan- percobaan Micchelson
dan Morley yang menyisihkan ketentuan fisik dari Newton. Teori relativitas Einstein
terus hidup hingga 30 tahun kemudian akan disisihkan pula.”
Apakah batas yang merupakan lingkup
penjelajahan ilmu? Di manakah ilmu berhenti dan meyerahkan pengkajian
selanjutnya kepada pengetahuan lain? Apakah yang menjadi karakteristik obyek
ontologi ilmu yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya? Jawab
dari semua pertanyaan itu adalah sangat sederhana: ilmu memulai penjelajahannya
pada pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman manusia. Jadi ilmu
tidak mempelajari masalah surga dan neraka dan juga tidak mempelajari sebab
musabab kejadian terjadinya manusia, sebab kejadian itu berada di luar
jangkauan pengalaman manusia (Jujun, 1990:91)
Mengapa ilmu hanya membatasi daripada
hal-hal yang berbeda dalam pengalaman kita? Jawabnya terletak pada fungsi ilmu
itu sendiri dalam kehidupan manusia; yakni sebagai alat pembantu manusia dalam
menanggulangi masalah yang dihadapi sehari-hari. Ilmu membatasi lingkup
penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan
dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Sekiranya ilmu
memasukkan daerah di luar batas pengalaman empirisnya, bagaimanakah kita
melakukan suatu kontradiksi yang menghilangkan kesahihan metode ilmiah? Kalau
begitu maka sempit sekali batas jelajah ilmu, kata seorang, Cuma sepotong dari
sekian permasalahan kehidupan.
Memang demikian, jawab filsuf ilmu, bahkan
dalam batas pengalaman manusiapun, ilmu hanya berwenang dalam menentukan benar
atau salahnya suatu pernyataan. Tentang baik dan buruk, semua berpaling kepada
sumber-sumber moral; tentang indah dan jelek semua berpaling kepada pengkajian
estetik.
Dapat disimpulkan bahwa Batas
dari penjelajahan ilmu hanyalah ”Pengalaman” manusia, yaitu mulai dari
pengalaman manusia dan berhenti pada pengalaman manusia juga. Pengalaman
manusia pada dasarnya dapat diperoleh melalui panca inderanya, oleh karena itu
jika pengalaman diperoleh dengan melihat maka ”ilmu adalah penglihatanmu”, jika
penglaman diperoleh dengan mendengarkan, maka ”Ilmu adalah pendengaranmu”
begitu juga untuk indera yang lainnya. Ini mengindikasikan bahwa ilmu sesorang
mencapai batas ketika ia harus meninggalkan dunia ini.
Pemerolehan Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua pada Anak Usia Dini
A. Pemerolehan Bahasa Pertama
1.
Pengertian
Pemerolehan
bahasa berasal dari istilah Inggris aquisition yaitu proses penguasaan bahasa
yang dilakukan oleh anak secara natural ketika anak belajar bahasa pertamanya
atau bahasa ibunya. Proses anak mulai mengenal kominukasi dengan lingkungannya
secara verbal.
Menurut
Kiparsky (Tarigan,1986:243) pemerolehan bahasa merupakan proses yang
dipergunakan oleh anak – anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang
makin bertambah rumit, ataupun teori – teori yang masih terpendam atau
tersembunyi yang mungkin sekali terjadi dengan ucapan – ucapan orang tuanya
sampai dia memilih berdasarkan suatu ukuran atau dari bahasa tersebut.
Sedangkan
bahasa pertama adalah bahasa yang pertama kali diperoleh oleh anak sejak kelahirannya.
Anak pada umumnya memperoleh komponen bahasa mereka yang pertama dari pengasuh
dan biasanya dari ibunya yang disebut bahasa ibu. Oleh karena itu, bahasa
pertama biasa disebut dengan bahasa ibu atau mother tongue. Anak pertama kali memperoleh bahasa tersebut antara
masa bayi kurang lebih satu tahun, bermula dari mendengar orang yang mengajak
bicara kemudian bayi memperhatikan wajah orang tersebut lalu bayi merespon
sesuai dengan kemampuannya.
2.
Tahap – Tahap Pemerolehan Bahasa
Pertama
Seorang
anak tidak dengan tiba – tiba memiliki tata bahasa dalam otaknya dan lengkap
dengan semua kaidahnya. Bahasa pertama diperolehnya dalam beberapa tahap dan
setiap tahap berikutnya lebih mendekati tata bahasa dari bahasa orang dewasa.
Adapun tahap – tahap pemerolehan bahasa pertama adalah sebagai berikut :
a.
Tahap
Pralinguistik I (Meraban)
Tahap ini berlangsung ketika anak
berusia 0 – 6 bulan. Bayi mulai mengeluarkan bunyi – bunyi dalam bentuk
teriakan, rengekan. Bunyi yang dikeluarkan mirip dengan bunyi vokal atau konsonan.
Kecenderungan bunyi yang dikeluarkan bersifat universal yaitu bunyi yang
dikeluarkan bayi sama diseluruh dunia.
b.
Tahap
Pralinguistik II
Pada tahap ini usia sekitar 6 – 12
bulan bunyi yang dihasilkan sama tapi kita sudah bisa membedakan maksud anak.
Anak sudah menghasilkan konsonan dan vokal.
c.
Tahap
Satu Kata
Tahap ini berlangsung ketika anak
berusia antara 12 dan 18 bulan. Ujaran – ujaran mengandung kata – kata tunggal
yang diucapkan anak mengacu pada benda – benda yang dijumpai sehari – hari. Pada
tahap ini anak mulai mengerti bahwa bunyi ujar berkaitan dengan makna dan mulai
mengucapkan kata – kata pertama. Kecenderungan anak hanya menguasai satu kata
dan umumnya anak mudah mengucapkan vokal.
d.
Tahap
Dua Kata
Tahap ini berlangsung ketika anak berusia
18 – 20 bulan. Ujaran – ujaran yang terdiri atas dua kata muncul seperti mama
mam dan num susu. Anak mampu mengucapkan kata dengan baik dan tersusun rapi.
e.
Tahap
Pengembangan Gramatikal
Pada tahap ini anak mulai
menghasilkan ujaran kata ganda. Anak mulai mampu berbicara panjang. Anak juga
mulai mampu berbicara terhadap banyak objek. Kosakata anak berkembang dengan
pesat mencapai ratusan kata dan cara pengucapan kata – kata semakin mirip
dengan orang dewasa. Biasanya anak cenderung banyak bertanya, banyak yang ingin
diketahuinya.
3.
Peran Bahasa Pertama
Bahasa pertama mempunyai peranan
penting dalam pengembangan bahasa selanjutnya. Hasil penelitian Dulay, Burt,
dan Krashen (1982) mengatakan bahwa bahasa pertama merupakan faktor utama dalam
proses pemerolehan bahasa kedua. Menurut teori Behavioristik Watson dan
Skinner, kebiasaan lama masuk dalam cara belajar kebiasaan baru yang berarti
bahasa pertama mempengaruhi bahasa kedua.
B.
Pemerolehan Bahasa Kedua
1.
Pengertian
Bahasa
kedua adalah bahasa yang digunakan anak setelah ia menguasai bahasa pertamanya.
Pemerolehan bahasa kedua merupakan proses pemerolehan bahasa yang kompleks dan
bertahap, baik yang dialami oleh anak maupun dewasa, baik bahasa lisan maupun
tulisan. Elis (1989) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa kedua merupakan proses
yang kompleks dan mencakup banyak faktor yang saling berhubungan.
2.
Faktor
– Faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa Kedua
a.
Faktor
Lingkungan Bahasa
Lingkungan bahasa adalah segala sesuatu
yang didengar dan dilihat anak dalam belajar bahasa kedua yaitu bahasa yang
digunakan dalam berkomunikasi sehari – hari oleh masyarakat disekitar anak.
b.
Faktor
Internal
Faktor internal adalah faktor
seseorang yang dapat mempengaruhi anak dalam berbahasa. Faktor tersebut adalah
: (1) kepribadian, (2) umur, (3) motivasi.
3.
Peranan
Bahasa Kedua
Peranan
bahasa kedua lebih difokuskan pada penguasaan bahasa anak usia dini dalam
rangka pengembangan keterampilan berbahasa. Oleh karena itu, masalah
pemerolehan bahasa kedua penting untuk diketahui oleh pendidik anak usia dini
sehingga bahasa kedua bisa diperoleh dengan baik oleh anak usia dini.
C.
Teori – Teori Tentang Pemerolehan
Bahasa Pertama
1.
Teori
Behaviorisme
Teori behaviorisme menyoroti aspek
perilaku kebahasaan yang dapat diamati langsung dan antara hubungan antara
rangsangan (stimulus) dan reaksi (respone).
Perilaku bahasa yang efektif adalah memuat reaksi yang tepat terhadap
rangsangan. Reaksi ini akan menjadi suatu kebiasaan jika reaksi itu dibenarkan.
Dengan demikian, anak belajar bahasa pertamanya.
Menurut Skinner, tokoh aliran
behaviorisme, perilaku kebahasaan sama dengan perilaku yang lain dikontrol oleh
konsekuensinya. Menurut pandangan kaum behavioristik anak yang baru lahir ke
dunia ini dianggap kosong dari bahasa atau kosong dari struktur linguistik yang
dibawanya. Anak tersebut ibarat tabularasa atau kertas putih yang belum
ditulisi, lingkungannyalah yang akan memberi corak dan warna pada kertas itu.
Namun pemerolehan seperti ini memerlukan penguatan (reinfocment)
2.
Teori
Nativisme
Menurut teori nativisme, bahasa hanya
dapat dikuasai oleh manusia, binatang tidak mungkin menguasai bahasa manusia.
Menurut Chomsky, hal ini didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, perilaku
berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap bahasa memiliki
perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal) lingkungan memiliki
peran kecil didalam proses pematangan bahasa. Kedua, bahasa dapat dikuasai
dalam waktu yang relatif singkat. Ketiga, lingkungan bahasa anak tidak dapat
menyediakan data yang cukup bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orang
dewasa. Menurut aliran ini, bahasa adalah sesuatu yang kompleks dan rumit
sehingga mustahil dapat dikuasai dalam waktu singkat melalui ‘peniruan’.
Nativisme juga percaya bahwa setiap manusia yang lahir sudah dibekali dengan
suatu alat untuk memperoleh bahasa (Language Acquisition Device, disingkat
LAD).
3.
Teori
Kognitivisme
Menurut teori ini, bahasa bukanlah
suatu ciri alamiah yang terpisah melainkan salah satu diantara beberapa
kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar.
Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada perubahan yg lebih mendasar dan
lebih umum didalam kognisi. Menurut teori kognitivisme, yang paling utama harus
dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam
bentuk keterampilan berbahasa. Pendekatan kognitivistik yang dipelopori oleh
Louis Bloom memandang bahwa pemerolehan bahasa anak-anak harusb dilihat dari
fungsi bahasa sebagai alat komunikasi.
4.
Teori
Interaksionisme
Teori interaksionisme beranggapan
bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara kemampuan mental
pembelajaran dan lingkungan bahasa. Pemerolehan bahasa itu berhubungan dengan
adanya interaksi antara masukan ‘input’ dan kemampuan internal pembelajar.
Setiap anak sudah memiliki LAD sejak lahir, namun tanpa adanya masukan yang
sesuai tidak mungkin anak dapat menguasai bahasa tertentu secara otomatis
Selasa, 25 Agustus 2015
Mengenalkan Komputer pada Anak Usia Dini
Ulasan dari Kompasiana
“ Mengenalkan Komputer pada Anak Usia
Dini”
Selasa,
25 Agustus 2015
Sebagaimana yang kita ketahui perkembangan teknologi
itu memang semakin berkembang pesat, seluruh pekerjaan dapat terselesaikan
dengan mudah dengan teknologi yang semakin canggih. Contohnya dengan adanya
komputer, komputer sangat diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Dan komputer juga dapat membantu siswa dalam menyelesaikan tugasnya. Oleh
karena perkembangan teknologi saat ini semakin canggih maka siswa perlu mengetahui
bagaimana cara pemakaian komputer. Karena dengan adanya komputer dan jaringan
internet dapat memudahkan anak dalam belajar dan memahami pelajaran sebab anak
dapat mengakses materi pelajaran yang menarik didalamnya.
Menurut analisa Dr. Glenn Doman dimana dalam bukunya
yang berjudul How to Multiply Your Child’s Intelligence menyatakan bahwa :
‘Semua bayi dalam perkembangan berikutnya akan ditentukan pada usia enam tahun
pertama dari hidupnya.” Dalam penelitiannya, Doman menemukan bahwa sebagian
besar anak belajar diantara usia 1 sampai 6 tahun dengan menyerap segala
sesuatu yang diajarkan kepada mereka. Pengajaran yang diperoleh anak pada usia
ini akan menentukan nilai-nilai atau keterampilan yang akan mereka miliki di
masa mendatang.
Berdasarkan atas penemuan di atas, bahwa penting
bagi kita sebagai calon guru untuk memperkenalkan anak-anak kepada
komputer ketika mereka masih dini.
Sesuai fakta bahwa masa AUD merupakan masa yang
tepat untuk mendapatkan banyak masukan dan stimulus positif yang dapat
membangkitkan kemampuan dan keahlian yang pada akhirnya berguna bagi masa
depan. Untuk itu pengenalan komputer pada usia dini saat ini sudah
diperlukan selain karena melihat perkembangan teknologi yang semakin canggih
agar anak tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi itu, juga pengenalan
komputer sangat baik untuk anak karena pembelajaran dengan media komputer akan
melahirkan suasana yang menyenangkan bagi anak. Gambar-gambar dan suara yang
muncul juga membuat anak tidak cepat bosan, sehingga dapat merangsang anak mengetahui
lebih jauh lagi. Oleh sebab itu, pengenalan komputer pada usia dini sangat
diperlukan.
Namun pengenalan komputer yang diberikan kepada
anak usia dini sifatnya hanyalah sebagai pengenalan dan hiburan saja, karena
pada masa AUD prinsip pembelajaran adalah bermain sambil belajar. Jika
pelajaran komputer dijadikan pelajaran yang serius tentu mereka akan terbebani,
karena mereka masih harus fokus pada pelajaran membaca dan berhitung.
Namun, mengenalkan komputer pada anak, amat
tergantung pada kesiapan orangtua dan guru dalam mengenalkan dan mengawasi anak
saat bermain komputer. Karenanya, kepada semua orangtua, perlu diingatkan peran
penting mereka dalam pemanfaatan komputer bagi anak. Berikan kesempatan pada
anak untuk belajar dan berinteraksi dengan komputer sejak dini. Apalagi
mengingat penggunaan komputer adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari pada
saat ini dan masa yang akan datang.
Banyak manfaat yang dapat diperoleh anak dalam
pembelajaran melalui media komputer yaitu :
a. Dengan pembelajaran melalui media komputer di
Taman Kanak-kanak akan mempermudah anak dalam mengenal dan belajar mengenai
huruf, angka, warna, bentuk geometri dan sebagainya
b. Pembelajaran melalui komputer yang diterapkan pada
anak usia dini tentunya dapat menstimulasi kecerdasan mereka, misalnya
kecerdasan kognitif mengenai pemahaman konsep bilangan maupun kecerdasan bahasa
dan mengasah kemampuan untuk berpikir kritis.
c. Pembelajaran melalui komputer bagi anak dapat
menstimulasi koordinasi mata dengan ketepatan gerak tangan dengan belajar
menggunakan mouse. Secara tidak langsung pembelajaran melalui komputer juga
membantu perkembangan motorik halus.
d. Sebagai media belajar, komputer memiliki keunggulan
dalam hal interaksi, dan menumbuhkan minat belajar mandiri bagi anak. Tetapi
interaksi komputer dengan anak belum dapat menggantikan interaksi orang tua
atau guru dengan anak.
e. Meningkatkan keterampilan belajar. Penelitian
menunjukkan bahwa anak yang menggunakan komputer memiliki performa akademis
yang lebih baik.
f. Menstimulasi kreativitas dan imajinasi. Pemrograman
komputer, meskipun sederhana akan terasa menantang bagi anak. Anak belajar
mengidentifikasi masalah, menganalisa pilihan, dan memilih solusi terbaik.
Batasan anak dalam membuat program hanyalah imajinasinya sendiri.
g. Meningkatkan perkembangan kepribadian. Program
komputer memungkinkan anak melakukan kesalahan, memperbaiki, dan mencoba lagi
tanpa takut dimarahi. Anak jadi terbiasa berani mengambil risiko, memiliki sifat
yang lebih independen, dan lebih percaya diri.
Komputer akan memberikan pengaruh positif bila digunakan dengan bijaksana, yaitu membantu pengembangan intelektual dan motorik anak. Namun juga dapat membuat dampak yang negatif, yaitu bila anak-anak dibiarkan menggunakan komputer secara sembarangan,
Contohnya saja jika anak mengalami kecanduan game
komputer. Kecanduan bermain komputer dapat memicu anak menjadi malas menulis,
menggambar ataupun melakukan aktivitas sosial. Kecanduan bermain komputer dapat
terjadi karena sejak awal orang tua tidak membuat aturan terlebih dahulu. Jadi sebelum memperkenalkan anak dengan komputer
dan internet, kita harus memastikan bahwa kebiasaan berkomunikasi secara
langsung di keluarga harus berjalan dengan baik. Dan orang tua perlu membuat
kesepakatan dengan anak soal waktu bermain. Misalnya, memberikan waktu bermain
pada hari libur.
Selain itu juga banyak hal yang dapat
merugikan apabila dalam pengaplikasikannya tidak diiringi dengan bimbingan dan
nilai moral yang baik, diantaranya adalah :
a. Melalui computer anak dapat meniru hal-hal yang kurang
baik, karena tidak adanya penyaringan untuk anak.
b. Melalui komputer akan dapat merusak system kerja otak
karena sinar katoda yang di terima oleh otak .
c. Melalui komputer ini juga akan mengurangi gerak anak
karena hanya terfokus duduk di depan komputer.
d. Dari segi sosialisasi anak akan sulit berkomunikasi
karena anak terbiasa berinteraksi dengan komputer.
Salah satu cara mengenalkan komputer
kepada anak-anak taman kanak-kanak adalah dengan memasang sebuah aplikasi
game/permainan yang disukai oleh anak-anak pada usia tersebut, dan juga
sekarang sudah banyak aplikasi CD Interaktif untuk anak-anak. Banyak
bermacam-macam jenis game yang dapat kita temukan yaitu game-game dengan unsur
hiburan yang sesuai dengan materi, sehingga anak semakin suka. Dalam kaitan
ini, komputer dalam proses belajar, akan melahirkan suasana yang menyenangkan
bagi anak. Gambar-gambar dan suara yang muncul juga membuat anak tidak cepat
bosan, sehingga dapat merangsang anak mengetahui lebih jauh lagi. Sisi baiknya,
anak dapat menjadi lebih tekun dan terpicu untuk belajar berkonsentrasi. Namun
tidak semua game yang ada dapat menunjang perkembangan anak. Game yang berbau
pendidikanlah yang sebaiknya kita berikan kepada anak-anak pada usia dini
tersebut, karena disamping mereka bermain, meraka juga dapat belajar komputer.
Selain itu, pembelajaran komputer
juga bisa dibuat degan tema yang dibahas di taman kanak-kanak selama 1 tahun,
sehingga pembelajaran komputer dapat diterapkan untuk menunjang keberhasilan
pendidikan anak dan membantu anak mengembangkan semua aspek perkembangannya.
Melalui media komputer, anak belajar dengan bertindak dan mendapat banyak
informasi secara integral sehingga anak mampu mendeskripsikan pengetahuan yang
diperolehnya baik melalui visual( menggambar) maupun auditorium (bercerita).
Jadi menurut saya pembelajaran komputer pada AUD
sudah diperlukan saat sekarang ini agar anak juga dapat menjadi generasi yang
tidak tertinggal dengan kemajuan zaman, agar anak dapat menghadapi dunia
untuk kedepanya, yang semakin berkembang, dan agar anak dapat menjadi
seorang yang ilmiah dengan menemukan teknologi-teknologi yang baru, namun hal
ini dapat terwujud apabila seluruh agen pendidik memahami akan teknologi dan
kebutuhan serta perkembangan anak itu sendiri. Dan orang tua hendaknya memahami
sejauh mana anak dikenalkan dengan komputer dan bagimanpula dengan pemahaman
orang tua tentang komputer itu sendiri, begitu juga dengan guru dan masyarakat,
bagaimana anak akan bisa memahami komputer apabila gurunya tidak mampu dalam
mengaplikasikanya, dan agar komputer itu benar-benar menjadi media yang
bermanfaat bagi anak masyarakat juga harus memahami hal-hal apa saja yang perlu
dan yang tidak perlu diketahui anak.
Dan apabila kita melihat dari segi kemampuan
ekonomi baik sekolah maupun masyarakat, masih banyak masyarakat yang menganggap
komputer adalah barag mewah yang sulit untuk mendapatkanya, begitu juga dengan
sekolah-sekolah yang kekurangan biaya dalam melengkapi fasilitas pendidikan,
dan kemampuan anak untuk mengolah komputer itu seperti anak-anak yang ada di
pedusunan.
Untuk anak usia dini yang ada dipedusunan dapat
juga belajar komputer jika guru atau pihak sekolah dapat mengusahakan kepada
pemerintah daerah atau kepada pihak yayasan untuk mendapatkan komputer. Namun,
pada saat sekarang ini sudah banyak warung internet dipedesaan, untuk
masyarakat yang memerlukan. Dengan semakin berkembangnya teknologi seperti saat
sekarang ini menurut saya sudah mudah untuk mendapatkan komputer tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)
