Minggu, 30 Agustus 2015

ILMU FILSAFAT : Batas Pengembangan Ilmu


BATAS-BATASAN PENGEMBANGAN ILMU 

a.      Cabang- cabang Ilmu 

Ilmu berkembang dengan sangat pesat demikian juga jumlah cabang cabangnya. Pada dasarnya cabang ilmu berkembang dari 2 cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian menjadi ruympun ilmu alamdan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang ilmu-ilmu social . Ilmu ilmu alam membagi diri kepada dua kelompok lagi yakni ilmu alam dan ilmu hayat . ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk alam semesta sedangkan alam kemudian berjabang lagi menjadi fisika ,kimia,astronomi dan nilmu bumi.
            Tiap cabang kemudian membikin ranting baru seperti berkembang mekanika ,hidrodinamika ,bunyi,cahaya,kelistrikaan dan magnetismesampai tahap ini maka kelompok ini termasuk ke dalam ilmu-ilmu murni
Ilmu –ilmu murni kemudian berkembang menjadi ilmu terapan.
Ilmu murni adalah merupakan kumpulan teori ilmiah yang bersifat dasar dan teoritis yang belum aktif dikaitkan dengan masalah masalah kehidupan yang bersifat praktis . ilmu terapan merupakan aplikasi ilmu murni kepada masalah-masalah kehidupan yang mempunyai manfaat praktis.
ILMU MURNI                                                               ILMU TERAPAN
Mekanika                                                                    Mekanika Teknis
Hidrodinamika                                                           Tehnik Aeronautikal/
Tehnik dan desain kapal
Bunyi                                                                           Tehnik Akustik
Cahaya & Optik                                                           Tehnik Iluminasi
Kelistrikaan/                                                                Tehnik Elektro
Magnetisme
Fisika Nuklir                                                                Tehnik Nuklir
Ilmu ilmu social berkembang agak lambat bdi bandingkan ilmu alam.pada pokoknya cabang utama  ilmu- ilmu social yakni antropologi,psikologi,ekonomi,sosiologi dan ilmu politik.
Cabang utama  ilmu-ilmu  social kemudian mempunyai caang lagi umpamayanya antropologi terpecah menjadi 5 yakni: arkeologi,antropologi fifik linguistic,etnologi dan antropologi social cultural.

b.  Kelebihan dan kekurangan ilmu

Dibandingkan dengan pengetahuan lain maka ilmu berkembang dengan sangat cepat. Salah satu faktor utama yang mendorong perkembangan ini ialah faktor sosial dari komunikasi ilmiah yang membuat penemuan individual segera diketahui dan dikaji oleh anggota masyarakat ilmuan lainnya. Tersedianya alat komunikasi tertulis dengan komunikasi elektronik dalam bentuk majalah, buletin, jurnal, micro film, telex dan sebagainya sangat menunjang intensitas komunikasi ini. Suatu penemuan baru di negara yang satu segera dapat diketahui oleh ilmuan negara- negara lain.
Penemuan ini segera diteliti kebenarannya oleh kalangan ilmiah karena prosedur untuk menilai kesahian (validity) pengetahuan tersebut sama- sama telah diketahui dan disetujui oleh seluruh kalangan ilmuan. Percobaan ilmiah harus selalu dapat diulang dan sekitarnya dalam pengulangan tersebut ternyata pernyataannya didukung oleh fakta maka kalangan ilmiah secara tuntas menerima kebenaran pengetahuan tersebut.
Seluruh kalangan ilmiah menganggap permasalahan mengenai hal tersebut telah selesai dan ilmu mendapat pengetahuan baru yang diterima oleh masyarakat dan ilmuan. Dengan demikian maka ilmu berkembang dengan pesat dalam dinamika yang dipercepat karena penemuan yang satu akan melahirkan penemuan- penemuan lainnya. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya segera menjadi teori ilmiah yang kemudian digunakan sebagai premis dalam mengembangkan hipotesis- hipotesis selanjutnya. Secara kumulatif maka teori ilmiah berkembang seperti piramida terbalik yang makin lama makin tinggi.
Ilmu juga bersifat konsisten karena penemuan yang satu didasarkan pada penemuan- penemuan sebelumnya. Sebenarnya hal ini tidak sepenuhnya benar. Karena sampai saat ini belum satu pun dari disiplin keilmuan yang berhasil menyusun suatu teori yang konsisten dan menyeluruh. Bahkan dalam fisika, yang merupakan prototipe bidang ilmuan yang relatif paling maju. Satu teori yang mencakup segenap dunia fisik kita belum dapat dirumuskan. Usaha untuk menyatukan teori relatifitas umum. Elektrodinamika, dan kuantum sampai saat ini belum dapat dilaksanakan. Teori ilmiah masih merupakan penjelasan yang bersifat sebagian dan tentatif sesuai dngan tahap perkembangan keilmuan yang masih sedang berjalan. Demikian juga dengan jalur perkembangan ini belum dapat dipastikan bahwa kebenaran yang sekarang ditemukan dan diterima oleh kalangan ilmiah akan benar pula dimasa yang akan datang.
Sejarah ilmu telah mencatat betapa banyak kebenaran ilmiah di masa lalu yang sekarang ini tidak dapat diterima lagi karena manusia telah menemukan kebenaran lain yang ternyata lebih dapat diandalkan. Sifat pragmatis inilah yang sebenarnya merupakan kelebihan dan sekaligus kekurangan ilmu. Sikap pragmatis dari ilmu adalah cocok dengan perkembangan peradaban manusia, telah terbukti secara nyata peranan ilmu dalam membangun perdaban tersebut.
Ilmu terlepas dari berbagai kekurangannya dapat memberikan jawaban yang positif terhadap permasalahan yang dihadapi manusia pada suatu waktu tertentu. Dalam hal ini maka penilaian terhadap ilmu tidaklah terletak pada kesahian teorinya sepanjang zaman, melainkan terletak dalam jawaban yang diberikannya terhadap permasalahan manusia dalam tahap peradaban tertentu. Adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam abad ke dua puluh ini kita menggunakan berbagai macam teknologi. Seperti mobil, pesawat terbang, dan kapal laut. Sebagai sarana pengangkutan kita berdasarkan pengetahuan yang kita terima kebenarannaya saat ini. Dikemudian hari mungkin saja ditemukan sarana pengangkutan lain yang lebih cocok dengan peradaban waktu itu yang pembuatannya didasarkan atas pengetahuan baru yang akan mengusangkan pengetahuan yang sekarang kita anggap benar tersebut.
Bagi tahap peradaban kita sekarang ini, maka semua itu tidak menjadi soal karena penerapan pengetahuan kedalam masalah kehidupan kita sehari- hari masih dirasakan banyak manfaatnya. Masalah tertentu akan lain lagi bila hal ini dihubungkan dengan pengetahuan yang bersifat mutlak yang tidak berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan peradaban manusia.
Dalam hal ini maka ilmu tidak dapat memberikan jalan keluar dan manusia harus berpaling ke sumber yang lain, umpamanya agama. Ilmu tidak berwenang untuk menjawabnya, sebab hal itu berada diluar bidang telaahnya. Secara ontologi ilmu membatasi diri hanya dalam ruang lingkup pengalaman manusia. Diluar bidang empiris tidak bisa mengatakan apa- apa. Sedangkan dalam batas kewenangannya pun, ilmu bukan tanpa cela, antara lain karena panca indra manusia jauh dari sempurna.
Walaupun demikian kekurangan- kekurangan ini bukan merupakan alasan untuk menolak eksistensi ilmu dalam kehidupan kita. Kekurangan dan kelebihan ilmu harus digunakan sebagai pedoman untuk meletakkan ilmu ke dalam tempat yang sewajarnya, sebab hanya dengan sifat itulah kita dapat memanfaatkan kegunaannya semaksimal mungkin bagi kemaslahatan manusia. Menolak kehadiran ilmu dengan picik berarti kita menutup mata terhadap kemajuan masa kini, yang ditandai oleh kenyataan bahwa semua aspek kehidupan modern dipengaruhi oleh produk ilmu dan teknologi. Sebaliknya dengan jalan mendewa- dewakan ilmu kitapun gagal untuk mendapatkan pengertian mengenai hakikat ilmu yang sebenarnya.’
Mereka yang sungguh- sungguh berilmu adalah mereka yang mengetahui kelebihan dan kekurangan ilmu, dan menerimanaya sebagaimana adanya, mencintainya dengan bijaksana, serta menjadikannya sebagai bagian dari kepribadian dan kehidupannya. Bersama- sama pengetahuan lainnya. Dan bersama pelengkap kehidupan lainnya seperti seni, agama, ilmu melengkapi kehidupan dan memenuhi kebahagiaan kita. Tanpa kesadaran itu, maka hanya akan kembali kepada ketidaktahuan dan kegersangan, seperti di syairkan Byron dalam Manfred, bahwa pengetahuan tak membawa kita bahagia, dan ilmu tak lebih dari sekedar bentuk lain dari ketidaktahuan.
c. Batas- batas  ilmu
Apakah nilai kebenaran dari ilmu bersifat mutlak?
Apakah seluruh permasalahan manusia di dunia dapat dijawab dengan tuntas oleh pengetahuan yang disebut ilmu pengetahuan?
Inilah pertanyaan pokok yang timbul bagi setiap yang mengejar ilmu pengetahuan kapan saja dan dimana saja. Untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan- pertanyaan itu, baiklah kia akan menoleh sejenak kepada apa yang telah diungkapkan oleh beberapa ahli di dunia dalam hubungan eksistensi ilmu pengetahuan itu.
Immanuel Kant (1724-1804) (dalam Burhanudin, 1996:94), seorang filsuf ulung bangsa Jerman, menulis “Dengan bagaimanapun juga tiada akal manusia (juga tiada akal yang terbatas) yang menilik sifatnya sama dengan akal kita, tapi memiliknya tingkatnya betapapun juga jauh melebihinya dapat berharap akan memahami penghasilan rumput yang kecil sekalipun dengan sebab- sebab yang sifatnya mekanis belaka.”
Dr. Mr. D.C Mulder menulis dalam karyanya yang berjudul Iman dan Ilmu Pengetahuan, “Tiap- tiap ahli ilmu vak menghadapi soal- soal yang tak dapat dipecahkan dengan melulu memakai pengetahuan vak itu sendiri. Ada soal- soal pokok atau soal- soal dasar yang melalui kompetensi dari ilmu vak itu sendiri. Misalnya, dimanakah batas- batas lapangan yang saya selidiki ini? Dimanakah tempatnya di dalam kenyataan seluruhnya ini? Metode yang saya gunakan ini sampai dimanakah? Umpamanya soal yang sangat sulit sekali apakah causalitas kealaman (natuur causaliteit) berlaku juga atas lapangan hayat, psychs, historis, sosial, dan yuridis? Dan tentu ada lain- lain lagi. Jelaslah untuk menjawab soal- soal semacam itu ilmu- ilmu vak membutuhkan suatu instansi yang sedemikian itu? Ada juga, yaitu ilmu filsafat.”
Dr. Frans Dahler mengemukakan, menurut Marxisme, agama akan lenyap, karena ilmu pengetahuan makin lama makin mampu mengartikan hidup dan membebaskan manusia dari penderitaan. Namun sesungguhnya ilmu tetap tak dapat menjawab beberapa pertanyaan yang mendasar dan terpendam dalam sanubari manusia. Misalnya tentang arti kematian, sukses dan gagalnya cinta, makna sengsara yang tidak dapat dihindarkan oleh ilmu yang paling maju sekalipun. Dan lebih dari itu, ilmu tak dapat memenuhi kerinduan, kehausan manusia akan cinta mutlak dan abadi.
Jean Paul Sartre, seorang filsuf eksistensialis yang atheist bangsa Perancis pernah mengemukakan, “ Apakah pengetahuan? Ilmu pengetahuan bukanlah suatu hal yang sudah selesai terfikirkan, sesuatu hal yang tidak pernah mutlak, sebab akan selalu disisihkan oleh hasil- hasil penelitian dan percobaan- percobaan baru yang dilakukan dengan metode- metode baru atau karena adanya perlengkapan- perlengkapan yang lebih sempurna. Dan penemuan- penemuan baru ini akan disisihkan pula oleh ahli- ahli lainnya, kadang- kadang kembali mundur, tetapi seringnya lebih maju. Begitulah selalu akan terjadi. Teori Einstein berdasarkan atas studi mengenai percobaan- percobaan Micchelson dan Morley yang menyisihkan ketentuan fisik dari Newton. Teori relativitas Einstein terus hidup hingga 30 tahun kemudian akan disisihkan pula.”
Apakah batas yang merupakan lingkup penjelajahan ilmu? Di manakah ilmu berhenti dan meyerahkan pengkajian selanjutnya kepada pengetahuan lain? Apakah yang menjadi karakteristik obyek ontologi ilmu yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya? Jawab dari semua pertanyaan itu adalah sangat sederhana: ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman manusia. Jadi ilmu tidak mempelajari masalah surga dan neraka dan juga tidak mempelajari sebab musabab kejadian terjadinya manusia, sebab kejadian itu berada di luar jangkauan pengalaman manusia (Jujun, 1990:91)
Mengapa ilmu hanya membatasi daripada hal-hal yang berbeda dalam pengalaman kita? Jawabnya terletak pada fungsi ilmu itu sendiri dalam kehidupan manusia; yakni sebagai alat pembantu manusia dalam menanggulangi masalah yang dihadapi sehari-hari. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Sekiranya ilmu memasukkan daerah di luar batas pengalaman empirisnya, bagaimanakah kita melakukan suatu kontradiksi yang menghilangkan kesahihan metode ilmiah? Kalau begitu maka sempit sekali batas jelajah ilmu, kata seorang, Cuma sepotong dari sekian permasalahan kehidupan.
Memang demikian, jawab filsuf ilmu, bahkan dalam batas pengalaman manusiapun, ilmu hanya berwenang dalam menentukan benar atau salahnya suatu pernyataan. Tentang baik dan buruk, semua berpaling kepada sumber-sumber moral; tentang indah dan jelek semua berpaling kepada pengkajian estetik.
Dapat disimpulkan bahwa Batas dari penjelajahan ilmu hanyalah ”Pengalaman” manusia, yaitu mulai dari pengalaman manusia dan berhenti pada pengalaman manusia juga. Pengalaman manusia pada dasarnya dapat diperoleh melalui panca inderanya, oleh karena itu jika pengalaman diperoleh dengan melihat maka ”ilmu adalah penglihatanmu”, jika penglaman diperoleh dengan mendengarkan, maka ”Ilmu adalah pendengaranmu” begitu juga untuk indera yang lainnya. Ini mengindikasikan bahwa ilmu sesorang mencapai batas ketika ia harus meninggalkan dunia ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar